BUMN

Tulisan berikut adalah lesson learn saya yang banyak dilatarbelakangi ketika saya diskusi dengan beberapa BUMN sehabis memberikan paparan tentang KPKU ketika program KPKU BUMN diperkenalkan sejak tahun lalu (2012) kepada seluruh BUMN.

Kalo boleh saya bagi isunya menjadi empat yaitu :

  1. Tidak semua BUMN berada dalam situasi organisasi yang telah siap atau memiliki kesisteman sebagaimana diminta dalam pertanyaan yang ada di KPKU.
  2. Beberapa BUMN menganggap pertanyaan KPKU lebih tepat bagi perusahaan-perusahaan besar.
  3. Sebagian berpendapat bahwa, lebih tepat membicarakan apa inovasi yang harus diciptakan untuk dapat “survive” dari situasi yang dihadapi perusahaan, ketimbang menyiapkan sistem yang diminta KPKU
  4. Jangan dibandingkan perusahaan saya yang kecil dengan perusahaan lain yang relative besar? Juga kami masih memiliki persoalan dan tugas sosial, berbeda dengan yang lain yang memang telah fokus untuk mencari laba dan fokus kepada pelanggannya

Tentu keempat isu diatas bukan mewakili kondisi yang seutuhnya, ijinkan saya mengelompokannya seperti itu.

Isu ke-1,

Tidak semua BUMN berada dalam situasi organisasi yang telah siap atau memiliki kesisteman sebagaimana diminta dalam pertanyaan yang ada di KPKU

Pernyataan ini adalah benar adanya, karena masing-masing perusahaan berbeda usianya dan berbeda dalam menyikapi bisnisnya. Bagi sebagian BUMN inisiatif-inisiatif kesisteman telah dibangun di perusahaannya sehingga beberapa pertanyaan KPKU telah mereka terapkan. Akan tetapi tidak semua potretnya seperti itu, tentu masih ada BUMN yang belum menjalankan atau bahkan belum melihat hal itu sebagai “sesuatu” yang harus diperhatikan dalam berbisnis.

Menyikapi hal ini, maka strategi komunikasi menjadi hal penting untuk disampaikan ketika kita berbicara dengan BUMN yang tingkat maturitasnya berbeda (ada yang sudah baik dan ada yang akan baik).  Berikut poin penting menurut hemat kami untuk menjadi pertimbangan dalam berkomunikasi:

  • Kelompokan BUMN berdasarkan tingkat kematangan kesisteman mereka.
  • Sampaikan bahwa penilaian kinerja unggul skornya adalah 0 – 1000 dan bisa diterapkan untuk organisasi/perusahaan dari yang sama sekali tidak punya sistem atau cara bekerja dan tidak ada hasilnya (skor 0), sampai dengan perusahaan yang telah memiliki sistem yang sempurna dan hasilnya unggul ditingkat dunia (skor 1000)
  • Bagi kelompok BUMN yang masih dalam tahap awal pengembangan, maka komunikasikan persyaratan KPKU dalam level “Basic Requirement” dan lebih baik untuk tidak membahahas secara detail sesuai pertanyaan “Multiple Requirement”,  karena akan membuat mereka frustasi. (Boleh juga mulai disinggung pertanyaan-pertanyaan untuk level “Overall Requirement”)
  • Bagi kelompok BUMN yang sedang atau cukup baik kesistemannya, tidak tepat juga untuk membahas KPKU pada level “Basic Requirement” karena mereka akan bosan. Bahaslah lebih dalam untuk level “Overall Requirement” dan mulai diperkenalkan pertanyaan-pertanyaan di level “Multiple Requirement”
  • Beberapa perusahaan yang telah mengenal dan melakukan assessment Baldrige, maka saat yang tepat untuk mengupas detail pertanyaan yang ada pada level “Multiple Requirement”

Isu ke-2,

Beberapa BUMN menganggap pertanyaan KPKU lebih tepat bagi perusahaan-perusahaan besar ?

Pernyataan ini adalah benar adanya, karena alat ini adalah tools menilai keunggulan kinerja perusahaan sampai pada level “Kelas Dunia”. Bagaimana dengan BUMN yang misi atau tugasnya hanya untuk lingkup nasional dan tidak semata-mata dituntut untuk bersaing ditingkat dunia?

Yang pertama, ingin saya sampikan adalah pertanyaan KPKU bagi sebuah perusahaan besar tentu dijawab dengan menunjukkan kebijakan atau prosedur kesisteman yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan dijalankan sebagai cara bekerja sehari-hari. Bagaimana dengan perusahaan kecil (yang tidak cukup besar) dan tidak cukup kemampuan seperti yang dimiliki perusahaan besar?, tentu terlalu berlebihan bila kita tidak sadar membandingkannya seperti sebuah perusahaan besar mengelola.  “Cara” atau approach yang diminta sesuai pertanyaan KPKU tidak harus tertulis berupa kebijakan atau prosedur kerja perusahaan yang formal, bagai perusahaan kecil yang terkendali, merekaa bisa tunjukan bagaimana perusahaan menjalankannya dan konsisten dikerjakan. Bisa saja hal itu diungkapkan berupa perintah melalui surat, komitemen hasil pertemuan dan lain sebagainya.

Kedua, kembalikan pada visi, misi dan tujuan perusahaan didirikan. Kemudian apa stretegi dan sasaran yang hendak dicapai perusahaan. Pertanyaan KPKU adalah menelusuri dari apa yang telah ditetapkan sebagai sasaran dan strategi kemudian menurunkannya untuk melihat bagaimana para pimpinan mewujudkan hal itu? Bagaimana perencanaan dan program kerja mencapainya? Bagaimana perusahaan memperhatikan pelanggan dan stakeholdernya? ….dan seterusnya sesuai 7 item kategori yang termuat dalam kriteria Baldrige atau KPKU BUMN baik untuk item kategori proses maupun hasil.   Jadi? Baldrige atau KPKU BUMN  sebenarnya tidak membeda-bedakan besar atau kecil organisasi, harus profit atau tidak, harus formal cara yang dilakukan (ada kebijakan perusahaan atau ada prosedur kerja yang tertulis, dsb) , tetapi saya yakin baik perusahaan kecil atau besar, maka mereka tentu memiliki visi, misi sasaran dan strategi sehingga mulai dari pertanyaan pada level “Basic Requirement” sewajarnya perusahaan paham dan mampu menjawabnya karena berisi pertanyaan yang masih dasar dan bersifat umum.

Isu ke-3

Sebagian berpendapat bahwa, lebih tepat membicarakan apa inovasi yang harus diciptakan untuk dapat “survive” dari situasi yang dihadapi perusahaan, ketimbang menyiapkan sistem yang diminta KPKU.

Hampir sama dengan uraian saya pada isu ke-2, kembali pada visi, misi, sasaran dan startegi perusahaan. Ketika prioritas saat ini adalah perusahaan lebih tepat harus ber-inovasi untuk menyelamatkan perusahaan, maka tuangkan hal itu dalam sasaran dan strategi, selanjutnya  persyaratan Baldrige atau KPKU BUMN akan melihat mulai dari bagaimana para pimpinan mengarahkan inovasi yang tepat? Bagaimana mengembangkan perencanaan dan program kerjanya untuk merealisasikan inovasi? ……demikian seterusnya sampai dengan mana hasil yang dicapai dari inovasi yang menjadi prioritas perusahaan, baik hasil finansial maupun non finansial sebagaimana yang dikelompkan dalam perspektif item kategori 7.

Isu ke-4

Jangan dibandingkan perusahaan saya yang kecil dengan perusahaan lain yang relative besar? Juga kami masih memiliki persoalan dan tugas sosial, berbeda dengan yang lain yang memang telah fokus untuk mencari laba dan fokus kepada pelanggannya

Memang penilaian Baldrige atau KPKU BUMN sewajarnya tidak untuk dibandingkan satu dengan yang lain. Penilian lebih pada nilai yang menunjukan posisi perusahaan saat dilakukan penilaian dari skala 1000 (puncak skor untuk perusahaan kelas dunia).

Skor hanya milik perusahaan dan tidak untuk disampaikan ke pada pihak lain.

Dari skor perusahaan akan tahu, dimana posisinya dan apa yang harus ditingkatkan. Skor juga bisa menjadi pembelajaran dan target perusahaan. Ketika, kita berharap mencapai skor tertentu, maka kita bisa merencanakan untuk meraihnya melalui pemenuhan persyaratan sesuai cerminan skor melalui pengembangan kesisteman di perushaan dengan memperhatikan pertanyaan demi pertanyaan yang saling terintegrasi satu dengan yang lain untuk mencapai target yang diinginkan perusahaan. (start from the end strategy)

Terkait dengan tugas perusahaan untuk mengelola misis sosial sebagai penugasan negara  dan tidak semata-mata fokus mencari laba, tentu kembali seperti yang saya uraian diatas, hal itu tidak masalah karena assessment selalu di kembalikan kepada apa visi, misi, sasaran dan startegi perusahaan.

Bagaimana perusahaan yang belum clear benar menetapkan apa visi, misi, sasaran dan strateginya? (akan kami share dalam tulisan saya kemudian)

“Keunggulan tidak datang sekaligus dan seketika, tetapi tahap demi tahap diupayakan untuk mencapainya. Siapa yang berhasil adalah yang komit, konsisten dan cepat mewujudkannya”